Tampilkan postingan dengan label Tarif Telekomunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarif Telekomunikasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2010

Kolaborasi antara Regulasi yang Tepat dan Kemampuan Menangkap Peluang Bisnis, Kunci Sukses Industri Seluler


Perkembangan dunia telekomunikasi yang semakin gencar tidak terlepas dari keberadaan teknologi yang terus berkembang. Alhasil, pengunaan sarana komunikasi pun terus meningkat intesitasnya. Semula kebutuhan komunikasi hanya terkait dengan pesan singkat dan pembicaraan menggunakan telepon, saat ini kebutuhan itu terus berkembang. Hal itu tampak dari penggunaan layanan jasa broadband yang semakin menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia.

Bergesernya pola kehidupan masyarakat dari pertanian, industri hingga ke jasa menandakan bahwa modernisasi semakin lekat. Artinya, kehidupan yang semakin kompleks memaksa masyarakat untuk mengikuti kemajuan teknologi yang ada. Hal ini menjadi peluang besar bagi operator telekomunikasi, dalam menjawab tantangan dan permintaan yang besar akan kebutuhan komunikasi dan informasi.

Kebutuhan yang besar akan telekomunikasi tampak dari semakin meningkatnya kepemilikan telepon genggam, dan pengguna layanan internet. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi industri telekomunikasi dalam melebarkan sayapnya. Selain itu, jumlah penduduk yang besar semakin menjadikan bisnis telekomunikasi semakin menarik. Kendati harus berebut pasar dengan dengan operator pesaing lainnya.

Sebagai market yang besar bagi industri telekomunikasi, pemerintah harus mampu menjawab tren yang ada. Regulasi yang tepat dan terarah akan semakin memuluskan langkah ekspansi indutri telekomunikasi. Dimana kualitas layanan yang bagus dan harga yang terjangkau menjadi tolok ukur keberhasilan. Artinya, kemampuan menciptakan regulasi yang mampu mendorong persaingan akan memberikan keuntungan dan kesejahteraan bagi konsumen dan rakyat Indonesia.

Maka, keberhasilan industri telekomunikasi dan seluler di Indonesia tidak terlepas dari regulasi dan kemampuan operator telekomunikasi dalam menangkap peluang bisnis yang ada. Besarnya potensi yang belum tergali menjadi alasan bagi operator untuk mampu meningkatkan kualitas pelayanannya. Selain itu, tarif telekomunikasi yang terjangkau akan menstimulus industri seluler berkembang di Indonesia. Dalam hal ini kesinergisan antara regulasi, operator telekomunikasi, dan industri seluler menjadi kombinasi yang menentukan pelayanan dalam menjawab kebutuhan informasi masyarakat. Hal ini pulalah menjadi peluang bisnis yang bagi sejumlah pelaku ekonomi yang terlibat di dalamnya.

Pemerintah Memegang Peranan Penting

Pemerintah memegang peranan penting dalam menunjang kemajuan dan peningkatan investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagai regulator arahan yang tepat dalam membuat kebijakan menjadi kunci keberhasilan investasi di Indonesia. Peranan yang penting tersebut merupakan kendali penuh pemerintah dalam menentukan arah investasi. Hal ini pulalah yang ikut menentukan berkembangnya industri seluler di Indonesia. Dimana kemajuan industri telekomunikasi sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Perubahan struktur dan pola regulasi juga akan berdampak signifikan permintaan akan jasa layanan telekomunikasi. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus dari pemerintah, pasalnya kemajuan operator telekomunikasi juga akan menentukan industri seluler dalam melebarkan sayapnya.

Tantangan berat bagi pemerintah dalam membuat kebijakan tertuang dalam peraturan pemerintah dan undang-undang yang dibuat DPR tentang telekomunikasi. Kedua regulasi tersebut mengatur secara tegas hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan jasa dan tarif telekomunikasi, guna melindungi kepentingan konsumen dan peningkatan kualitas layanan. Disisi lain, kedua regulasi tersebut juga harus mampu memberikan kesempatan bagi penyediaan layanan (operator telekomunikasi) dalam mengembangkan usahanya. Peran ganda inilah yang harus dilakukan pemerintah dalam menciptakan keselarasan diantara operator dan masyarakat sebagai konsumen.

Peningkatan daya saing antar operator dan kualitas pelayanan telekomunikasi menjadi sasaran utama pembentukan regulasi. Hal itu secara jelas tertuang dalam UU NO.36 Tahun 1999 dan PP NO.52/2000 tentang penyelenggaraan jasa telekomunikasi. Alhasil, regulasi tersebut mendorong persaingan antar operator dalam meningkatkan kualitas layanan dengan harga terjangkau.

Peranan besar pemerintah sebagai regulator memang bukan perkara yang mudah. Mengingat ada dua belah pihak yang harus diperjuangkan, yaitu operator telekomunikasi dan konsumen sebagai penikmat jasa tersebut. Artinya, pemerintah harus menjaga keselarasan antara persaingan industri telekomunikasi dengan peningkatan investasi dibidang tersebut.

Selain itu, kemampuan pemerintah dalam menciptakan regulasi yang kondusif ikut menentukan keberhasilan industri telekomunikasi. Persaingan antar operator yang ketat, tarif telekomunikasi yang terjangkau, dan meningkatnya penggunaa jasa telekomunikasi, mendorong berkembangnya industri seluler. Hal ini mengindikasikan bahwa regulasi yang tepat mampu menciptakan peluang bisnis bagi industri komplemennya.

Dimana peningkatan permintaan dan pengguna jasa telekomunikasi, ikut mendorong kemajuan industri seluler. Hal itu tampak dari berkembangnya tren smart phone yang semakin melekat dihati masyarakat. Selain itu, berbagai inovasi pun dilakukan guna memberikan kepuasan bagi pelanggan dalam menikmati jasa telekomunikasi. Jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini merupakan peluang bagi industri seluler sebagai industri komplemen yang diuntungkan, dari peningkatan pelayanan yang diberikan operator telekomunikasi. Dengan semakin, meratanya akses layanan telekomunikasi maka kebutuhan terhadap produk industri seluler akan ikut meningkat pula.

Dengan demikian, peranan sentral dari pemerintah dalam menciptakan sebagai regulator bukan isapan jempol belaka. Pasalnya, keseriusan menciptakan regulasi dalam dunia telekomunikasi akan berbuah manis pula bagi industri lainnya. Hal ini jika dipandang secara ekonomi akan sangat menguntungkan. Dimana investasi akan meningkat dan diikuti peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Menjawab Tantangan Global

Seakan menjadi rantai yang tak pernah putus, tantangan bagi industri seluler pun kian berkembang seiring perkembangan waktu. Tuntutan untuk menciptakan produk murah, berteknologi canggih, dan berkualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan bagi industri seluler. Hal ini membutuhkan kemampuan untuk membaca tren yang berkembang. Keadaan yang demikian akan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi industri seluler, jika mampu mengolahnya.

Kemampuan menjawab tantangan global dalam dunia telekomunikasi pun menjadi bagian yang tidak terelakan. Kebutuhan akan informasi, komunikasi, dan kehidupan yang serba modern, memaksa industri selular untuk terus berinovasi. Selain itu, era kemajuan teknologi pun terus memberikan angin segar dalam menjawab tantangan tersebut. Pasalnya, keinginan konsumen dalam memenuhi kebutuhannya hanya dengan satu genggaman semakin menarik industri seluler untuk terus berekspansi.

Ditengah isu globalisasi yang semakin marak mendorong persaingan usaha yang semakin ketat. Dimana kemampuan menjawab dan menangkap peluang sekaligus tantangan bisnis menjadi kunci suksesnya industri industri. Selain, efisiensi dan efektivitas dalam produksi, inovasi produk pun menjadi bagian penting bagi kemajuan industri tersebut. Artinya, pergerakan tren yang mengarah kepenyediaan jasa telekomunikasi membutuhkan dukungan perangkat keras (hardware) yang mumpuni. Tantangan inilah yang harus dijawab industri seluler dan memanfaatkannya sebagai peluang bisnis.

Kesigapan industri seluler dalam menangkap tren menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan penjualan produk. Pasalnya, dengan tingkat persaingan yang semakin ketat diantara produsen seluler keunikan dan inovasi sangat dituntut. Hal ini akan menjadi keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh operator lainnya. Keunikan dan inovasi merupakan bagian dalam menjawab tantangan global dalam membaca tren dan peluang pasar.

Maka, kunci sukses sebuah industri seluler tidak terlepas dari peran pemerintah dan kemampuan menjawab tantangan global. Dimana keselarasan antara regulasi, dan operator telekomunikasi menjadi ujung tombak keberhasilan industri seluler. Saat ini, maraknya produk smart phone dengan harga terjangkau merupakan upaya menjawab tantangan global yang semakin kompetitif. Layaknya sebuah bangunan, industri seluler pun hanya dapat hidup bila pilar penopangnya kokoh, yang tampak dalam regulasi dan layanan operator telekomunikasi yang semakin berkualitas dan terjangkau.



Felix Wisnu Handoyo

Mahasiswa Ilmu Ekonomi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM


Selasa, 22 Desember 2009

Tarif Telekomunikasi Murah, Kualitas Hidup Masyarakat Meningkat, Benarkah??

Perkembangan industri telekomunikasi terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Berbagai faktor penting mewarnai kejayaan industri telekomunikasi yang terus mengalami pertumbuhan, baik jumlah pelanggan maupun profit perusahaan. Tidak mengherankan apabila perang tarif pun bertaburan, seakan perebutan pelanggan baru tidak pernah ada habisnya. Tren semacam ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring meningkatnya kebutuhan jasa telekomunikasi di Indonesia.


Sebagai negara yang berpenduduk mencapai 250 juta jiwa, Indonesia masih menjadi pasar bagi sejumlah pelaku bisnis. Potensi yang besar inilah merupakan kesempatan bagi operator telekomunikasi untuk melebarkan sayapnya. Di Indonesia sendiri terdapat tiga operator besar yang memiliki pangsa pasar lebih dari lima persen, yaitu Telkomsel, Indosat dan Excelcomindo yang saat ini berganti nama menjadi Xl Axiata. Maka, tidak jarang antar operator telekomunikasi berlomba-lomba membangun tower untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.


Munculnya pemain baru dalam industri telekomunikasi di Indonesia, seperti 3, Axis, dan Bakrie Telecom, semakin meramaikan peta persaingan. Artinya, konsumen akan diuntungkan dengan adanya penurunan tarif telekomunikasi yang semakin terjangkau oleh masyarakat. Murahnya biaya telekomunikasi menstimulus masyarakat untuk melakukan konsumsi lebih dalam sektor ini. Peningkatan daya saing dalam Industri telekomunikasi merupakan upaya pemerintah sebagai regulator dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat Indonesia. Yang telah diatur dalam UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.


Kemajuan industri telekomunikasi di Indonesia, memang tidak terlepas dari peran pemerintah sebagai regulator. Di mana dengan UU No.36 Tahun 1999, mensyaratkan penyelenggaraan pelayanan telekomunikasi harus bersifat kompetisi. Sejak saat itu aroma persaingan antar operator dimulai dari penurunan tarif hingga peningkatan kualitas pelayanan telekomunikasi. Keberhasilan pemerintah sebagai regulator mampu mendorong pemain baru untuk masuk dan bersaing dengan operator lainnya. Akhirnya, peningkatan pelayanan terus terjadi dengan tarif telekomunikasi yang relatif lebih murah.


Perang tarif dalam Industri telekomunikasi seakan menunjukkan persaingan yang ketat dalam mempertahankan pelanggan lama dan untuk menarik pelanggan baru. Tren persaingan tarif telekomunikasi membawa dampak yang cukup signifikan terhadap perilaku konsumen. Dimana setiap konsumen (masyarakat) menggunakan lebih dari satu nomor handphone. Artinya, konsumen pun mulai membaca peta persaingan operator telekomunikasi dengan melakukan diversifikasi penggunaan layanan telekomunikasi. Utilitas maksimum menjadi tujuan konsumen dalam mengubah perilakunya. Disisi lain, maraknya penggunaan nomor handphone merupakan berkat bagi operator telekomunikasi. Pasalnya, dengan pola tersebut maka akan menciptakan multiplier dalam penggunaan layanan telekomunikasi. Maksudnya, jumlah permintaan akan layanan jasa telekomunikasi bisa melebihi jumlah penduduk yang ada saat ini.


Munculnya simbiosis mutualisme antara pelanggan dengan operator terkadang membawa pengaruh yang bagi kondisi sosial. Maraknya penggunaan telepon genggam dalam kehidupan sehari-hari mulai menggeser perilaku utama masyarakat. Dimana kebutuhan komunikasi seakan menjadi kebutuhan yang primer diatas kebutuhan pokok sehari-hari. Dampak tersebut merupakan signal negatif kehidupan sosial, meskipun secara ekonomi sangat menguntungkan. Untuk itu masalah sosial perlu mendapat perhatian khusus, jangan sampai muncul anggapan negatif terhadap kemajuan layanan telekomunikasi di Indonesia.


Kendati membawa pengaruh yang positif, menjamurnya layanan telekomunikasi ikut menyumbang pengaruh negatif. Selain pemaparan di atas, dampak negatif yang bisa muncul ialah secara tidak langsung masyarakat didik untuk berperilaku konsumtif dan memaksa untuk berperilaku boros. Hal itu tampak dari paket layanan murah yang ditawarkan operator melalui pembatasan waktu. Konsep jelas ini mendidik masyarakat berilaku konsumtif dan boros. Pasalnya, kebanyakan dari konsumen hanya berupaya menghabiskan gratisan yang diperoleh dari operator, kendati kebutuhan akan telekomunikasinya telah terpenuhi. Maka, maraknya persaingan dalam industri telekomunkasi tidak lantas berdampak postif tetapi juga mengandung unsur negatif di dalamnya.


Tren Industri Telekomunikasi di Indonesia

Kebutuhan akan telekomunikasi seakan menjadi bagian hidup yang tidak dapat terpisahkan bagi masyarakat Indonesia. Peningkatan permintaan akan telekomunikasi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Hal itu pun tampak dari lama waktu bicara dan penggunaan telepon genggam, yang sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tren ini terus berkembang pesat di Indonesia. Kondisi itu ditanggapi oleh berbagai operator seluler dalam meningkatkan kualitas pelayanannya.


Kemajuan yang diraih industri telekomunikasi di Indonesia ditidak terlepas dari liberalisasi telekomunikasi yang dimulai dari penerbitan Undang-undang Telekomunikasi No. 36 Tahun 1999. Melalui penerbitan undang-undang tersebut, Indonesia membuka lebar-lebar Industri telekomunikasi sehingga mendorong masuknya operator baru. Akhirnya, menciptakan persaingan tarif telekomunikasi yang semakin murah dan efisien.


Upaya menciptakan kompetisi dalam industri telekomunikasi merupakan salah satu tujuan dari Dirjen Pos dan Telekomunikasi (2007-2013), yaitu menciptakan sustainabilitas akses dan layanan telekomunikasi. Hal itu tampak dari angka perputaran pelanggan telepon seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 8,6 persen dalam sebulan. Jika dibandingkan dengan angka perputaran pelanggan di India mencapai 4 persen per bulan, Malaysia 3,7 persen per bulan, Philipina 3,1 persen per bulan, Thailand 2,9 persen per bulan, Cina 2,7 persen per bulan, dan Bangladesh 2,1 persen per bulan (Tempo, 2007). Artinya, kompetisi operator telekomunikasi dalam menerapkan harga semakin memberikan manfaat bagi masyarakat, melalui penyelenggaraan telekomunikasi yang murah.


Seiring dengan kompetisi dalam industri telekomunikasi yang semakin ketat, menciptakan tren pergeseran penggunaan sarana komunikasi. Saat ini, pergeseran pemanfaatan sarana telekomunikasi memasuki babak informasi. Di mana penggunaan sarana telekomunikasi memasuki era cyberspace. Pengunaan layanan telekomunikasi semakin memberikan pengetahuan melalui kemajuan pelayanan broadband, yang semakin marak. Selain itu, dukungan dari kemajuan smart phone semakin memberikan angin segar bagi kemajuan industri telekomunikasi.


Dalam mengembangkan sayapnya operator telekomunikasi kian mampu menangkap peluang usaha yang semakin lebar. Dimulai dari pengembangan kualitas hingga coverage area pelayanan, dengan berbagai strategi bisnis yang diterapkan. Hal itu diperkuat oleh penelitian bank dunia yang dilakukan di 120 negara, menyatakan bahwa ada hubungan kuat antara penggunaan seluler, broadband, dan GDP. Di mana dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa kenaikan 10% dalam broadband akan meningkatkan GDP sebesar 1,38% dalam negara berkembang. Sedangkan, kenaikan 10% penggunaan seluler di negara berkembang ikut menyumbang peningkatan GDP sebesar 0,81%. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan penetrasi yang dilakukan operator telekomunikasi, masih memberikan peluang bisnis. Pasalnya, dukungan terhadap kemajuan industri telekomunikasi akan terus dilakukan oleh pemerintah, khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia.


Iklim kompetisi yang semakin ketat antar operator telekomunikasi, mendorong bermunculan strategi baru dalam pemasaran. Di mana tren yang terjadi meliputi tiga faktor, yaitu 1) kualitas layanan, 2) harga yang murah, dan 3) jangkauan yang luas. Ketiga hal ini yang akan terus dilakukan guna menjaring pelanggan baru. Pasalnya, kebutuhan masyarakat akan komunikasi kian meningkat dari hari kehari. Maka, peningkatan atas kualitas layanan, harga murah, dan jangkauan luas, menjadi aspek yang wajib dikembangkan oleh operator telekomunikasi.


Peningkatan kualitas layanan merupakan strategi utama bagi operator telekomunikasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya. Meningkatnya kebutuhan akan akses internet melalui seluler menuntut peningkatan layanan, seperti 3G atau 3,5G. Selain itu, kebutuhan akan telekomunikasi terus meningkat, sehingga menuntut kualitas jaringan yang baik. Kemampuan menangkap signal positif dari pelanggan akan mendorong operator telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas layanannya.


Di samping kualitas layanan yang baik, penyelenggaraan telekomunikasi harus didukung dengan harga layanan yang murah dan terjangkau masyarakat. Sebuah tantangan besar bagi operator telekomunikasi dalam menarik pelanggannya. Kompetisi yang ketat memaksa untuk memberikan pelayanan berkualitas dengan harga murah. Hal ini merupakan wajah baru dari tren industri telekomunikasi di Indonesia. Situasi tersebut menciptakan sebuah tren perang tarif antar operator telekomunikasi. Namun, sangat disayangkan ditengah persaingan harga, munculnya syarat dan ketentuan yang berlaku menjadi ganjalan bagi konsumen dalam mengakses layanan telekomunikasi. Pasalnya, layanan telekomunikasi dengan harga murah hanya diberikan pada jam tertentu.


Jangkauan luas merupakan langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh operator telekomunikasi dalam melebarkan sayapnya. Penambahan luas jaringan menjadi poin penting bagi operator untuk menarik pelanggan baru. Melalui strategi ini perluasan pelanggan tidak hanya terjadi pada mereka yang telah mengenal telekomunikasi, melainkan bisa memikat pelanggan yang baru mengenal telekomunikasi. Strategi perluasan jaringan ke daerah-daerah juga memiliki sumbangsi terhadap pemerataan kesempatan dalam teknologi. Hal ini diharapkan juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya mereka yang berada di pedesaan.


Tren muncul dalam industri telekomunikasi membawa angin segar bagi perkembangan akses informasi. Selain, memberikan profit yang besar bagi operator telekomunikasi. Dengan mengenal tren dalam industri telekomunikasi, kita dapat mengetahui seberapa besar peran telekomunikasi dalam kehidupan manusia. Kemudian akankah berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat? Pemaparan selanjutnya akan diberikan dalam pembahasan selanjutnya.


Kualitas Hidup Meningkat?

Dengan munculnya persaingan dalam industri telekomunikasi, maka secara jelas mampu menurunkan tingkat harga komunikasi. Namun, apakah penurunan tarif telekomunikasi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat? Untuk menjelaskan fenomena tersebut, perlu diindentifikasi terlebih dahulu terkait kualitas hidup manusia.


Kualitas hidup manusia seiring perjlanan waktu terus mengalami perkembangan. Sebelum abad ke-18, akses pendidikan menjadi prioritas utama dalam peningkatan kualitas hidup. Kemudian, setelah abad ke-18 menunjukkan perkembangan, di mana kualitas hidup manusia juga ditentukan oleh akses telekomunikasi. Hal dipertegas oleh Alvin Toffler yang menjastifikasi abad modern dan pintar adalah abad yang dikuasai oleh telekomunikasi. Di mana penguasaan atas teknologi menjadi indikator utama peningkatan kualitas hidup. Kendati faktor lainnya juga ikut berpengaruh, dengan proporsi tertentu.


Melek informasi di Indonesia masih memprihatinkan, faktor keterbatasan untuk mengakses informasi menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, kebutuhan untuk mengakses informasi diperlukan teknologi yang menunjang, seperti komputer, jaringan telekomunikasi, dan tarif yang terjangkau. Mahalnya pengadaan teknologi pendukung menjadi alasan pemerataan infomasi melalui telekomunikasi menemui jalan buntu. Akibatnya, jika dilihat laporan Bank Dunia tahun 2007 perbandingan akses dan pemakaian teknelogi telekomunikasi terdapat perbandingan yang sangat mencolok antara Indonesia dan Malaysia. Pemakaian internet, misalnya dari per 1000 orang di Indonesia hanya memakai 72 orang, sedangkan di Malaysia sudah mencapai 434 orang. Begitu pula dengan pemakaian telepon, dari per 1000 orang di Indonesia baru yang memakai telepon hanya 270 orang, sedangkan di Malaysia 943 orang. Sungguh mencengangkan bahwa Indonesia belum mampu memberikan akses informasi kepada masyarakatnya.


Berdasarkan pemaparan di atas bahwa peran telekomunikasi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat sangat besar. Pasalnya, telekomunikasi mampu memberikan akses informasi dan komunikasi yang luas tanpa mengenal dimensi waktu. Selain itu, berbagai pengetahuan dan informasi dapat diperoleh guna menunjang produkstivitas masyarakat. Dengan demikian, kemampuan akses masyarakat terhadap telekomunikasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.


Kemampuan masyarakat dalam mengakses telekomunikasi sangat diperngaruhi oleh tarif telekomunikasi yang diterapkan. Maka, adanya peningkatan kompetisi dalam industri telekomunikasi jelas memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas. Di mana setiap masyarakat dengan mudah mengakses pelayanan telekomunikasi, baik untuk internet maupun telepon. Selain itu, kompetisi yang ada akan menciptakan peningkatan kualitas, penambahan luas jangkauan, dan tarif telekomunikasi yang murah. Melalui mekanisme ini pemerataan atas penggunaan sarana telekomunikasi dapat tercapai.


Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penurunan tarif telekomunikasi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Di mana akses informasi dan komunikasi dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Namun, yang perlu diperhatikan ialah mekanisme penentuan tarif telekomunikasi yang terapkan operator, kurang mampu mendidik masyarakat secara sosial. Di mana akses pelayanan telekomunikasi yang murah, banyak syarat dan ketentuan yang menyertainya. Melalui program-program pemasaran yang memberikan berbagai pilihan paket yang dapat dipilih sesuai selera pelanggan. Dengan proses ini jelas operator mengajarkan konsumen untuk berlaku boros. Artinya, penggunaan telekomunikasi yang murah dibatasi dengan jam, sehingga dengan atau tanpa keperluannya masyarakat wajib menggunakan sarana tersebut sebelum melewati batas waktu dan ketentuan yang berlaku.


Sungguh ironi memang bahwa akses telekomunikasi di Indonesia, belum mampu mendidik masyarakat secara sosial. Kendati cara ini mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui penguasaan teknologi dan informasi. Perlu disadari penurunan tarif telekomunikasi tidak dapat dikatakan memberikan manfaat bagi masyarakat secara penuh. Pasalnya, ada dampak negative yang ditimbulkannya. Untuk itu, pemanfaatan atas fasilitas telekomunikasi harus disikapi secara bijak, sebab ketidakmampuan dalam mengendalikan penggunaan sarana ini dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial masyarakat.


Felix Wisnu Handoyo

Mahasiswa Ilmu Ekonomi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM

Senin, 29 Desember 2008

Penurunan Tarif Telekomunikasi Bagi Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Indonesia

Penurunan Tarif Telekomunikasi Bagi Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Masyarakat Indonesia

Oleh: Felix Wisnu Handoyo

Kebijakan pemerintah yang mewajibkan operator telekomunikasi untuk menurunkan tarifnya berdampak bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal itu mampu mengubah pola komsumsi dan perilaku masyarakat. Yang awalnya tidak pernah atau jarang berkomunikasi melalui telepon genggam mulai menggunakannya. Bahkan, intensitas penggunaannya cenderung meningkat dari tahun ketahun . Kondisi tersebut membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat, baik secara positif maupun negatif. Perubahan pola konsumsi, mengarahkan kehidupan sosial yang modernisasi sebagai bentuk akibat turunnya tarif telekomunikasi.

Perubahan tarif telekomunikasi membawa tren baru dalam kehidupan masyarakat. Penggunaan telepon genggam meningkat tajam menjadi salah satu indikasi penurunan tarif telekomunikasi. Dimana sebelumnya masyarakat lebih mengutamakan penggunaan telepon rumah atau wartel kemudian mengubah pola konsumsinya dengan menggunakan telepon genggam. Secara tiba-tiba terjadi shock pada pasar telekomunikasi mulai dari peningkatan piranti lunak hingga piranti keras yang langsung berhubungan langsung dengan permintaan telepon genggam. Fenomena ini jelas mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia secara fundamental.

Konsumsi meningkat seiring penurunan tarif telekomunikasi yang berlaku di Indonesia. Dimana kondisi tersebut mampu memberikan efek tiba-tiba bagi pasar telekomunikasi. Jika diperhatikan mulai banyak operator telekomunikasi baru bermunculan, meningkatnya penawaran dan permintaan akan telepon genggam, meningkatnya intensitas masyarakat dalam berkomunikasi, dan mengubah pola pandang masyarakat terhadap telepon genggam. Saat ini telepon genggam bukan menjadi barang mewah melainkan sudah menjadi barang normal yang bisa dimiliki siapa saja tanpa mengenal status. Mulai dari mereka yang penghasilan rendah, sedang, hingga tinggi sudah menggunakan telepon genggam. Beberapa aktor utama dalam peningkatan konsumsi telekomunikasi akan mendapatkan keuntungan, baik secara finansial, pelayanan, dan kemudahan dalam berkomunikasi.

Meningkatnya jumlah operator telekomunikasi merupakan dampak awal dari penurunan tarif telekomunikasi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa telekomunikasi di Indonesia dianggap menarik oleh para investor. Keadaan ini jelas dimanfaatkan oleh investor baik asing maupun domestik. Peluang yang besar mendorong para operator meningkatkan pelayanan dengan melakukan ekspansi. Hal yang bisa dilakukan yaitu dengan menambah investasi untuk memperluas jaringan telekomunikasi yang telah ada. Perkembangan yang pesat ini jelas akan mengubah pola dan perilaku masyarakat dalam menggunakan jasa telekomunikasi. Ekspansi besar-besaran yang dilakukan para operator merupakan upaya untuk menarik para pengguna jasanya, meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan zona wilayah jangkauan yang mendorong kualitas signal yang baik.

Kegiatan ekspansi yang dilakukan oleh operator tidak hanya berdampak pada penyedia dan konsumen saja, tapi juga berdampak pada pendapatan masyarakat. Dengan adanya ekspansi yang dilakukan akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar. Yang secara tidak langsung akan meningkatkan daya beli masyarakat dan langsung yang dirasakan ialah peningkatan pendapatan masyarakat seiring penurunan angka pengangguran. Keadaan tersebut akan mampu mendorong PDB nasional yang ditopang melalui peningkatan produksivitas masyarakatnya. Bagi pemilik lahan akan mendorong peningkatan pendapatan melalui biaya sewa lahan kepada operator telekomunikasi. Pendapatan yang meningkat juga akan mendorong konsumsi lebih besar, jika lihat secara ekonomi dapat mendorang pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi para investor perkembangan yang terjadi akan meningkatkan deviden sehingga terjadi peningkatan harga saham di BEI (Bursa Efek Indonesia).

Penurunan tarif telekomunikasi berdampak pada pola konsumsi secara teknis, baik dari segi penawaran maupun permintaan perangkat telepon genggam. Secara garis besar dampak penurunan tarif akan merambat ke pasar penjualan telepon genggam. Dalam beberapa tahun terakhir banyak tempat belanja atau mall yang khusus menjual telepon genggam. Di jakarta, pusat penjualan telepon genggam ada di Roxy Mas, Jakarta Barat. Dimana tempat ini menjadi ajang jual beli piranti keras yang mendukung dalam berkomunikasi. Berdasarkan pengamatan Roxy Mas tidak pernah luput dari keramaian pengunjung yang ditandai transaksi penjualan atau pembelian dalam jumlah besar. Jakarta bisa menjadi parameter perkembangan pesat industri telekomunikasi di Indonesia. Pasalnya, sekitar 80% uang beredar di Jakarta, dengan kata lain Jakarta bisa menjadi gambaran konsumsi telekomunikasi di Nusantara.

Peningkatan transaksi penjualan dan pembelian telepon genggam menggambarkan prospek investasi dalam telekomunikasi sangat menjanjikan keberhasilannya. Kondisi demikian jelas memberikan dampak positif bagi pergerakan ekonomi. Selain itu, memberikan dampak sosial yang positif bagi lingkungan sekitar dan masyarakat Indonesia. Meskipun ada dampak negatif dari peningkatan konsumsi telekomunikasi, seperti kebutuhan yang diutamakan hanya komunikasi. Dengan turunnya tarif komunikasi memang memberikan dampak yang positif dan negatif. Namun, yang perlu diketahui ialah apakah manfaatnya lebih besar dari kerugiannya? Jika berbicara penurunan tarif telekomunikasi jelas akan memiliki dampak yang positif yang lebih besar, seperti yang telah diungkapkan di atas.

Peningkatan intensitas masyarakat dalam menggunakan jasa telekomunikasi jelas terasa dalam masyarakat. Penurunan tarif telekomunikasi memang terasa secara langsung meningkatkan penggunaan jasa telekomunikasi. Dengan berbagai tawaran yang menarik dari operator telekomunikasi direspon positif oleh masyarakat. Upaya tersebut dilakukan operator telekomunikasi untuk menjaring pelanggannya. Mulai dari kartu perdana murah, biaya telekomunikasi murah pada jam tertentu, dan paket telepon genggam dengan perdana murah.

Turunnya tarif telekomunikasi ikut mengubah pandangan masyarakat terhadap penggunaan telekomunikasi dan telepon genggam. Meningkatnya penggunaan telepon genggam menurunkan tingkat kualitas dari telepon genggam. Maksudnya telepon genggam bukan dianggap sebagai barang mewah. Hal itu mendorong masyarakat untuk menggunakan telepon genggam sebagai sebuah kebutuhan mutlak yang tidak bisa diganti. Jika hal tersebut berlangsung terus menerus tidak akan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat. Namun, pada masyarakat golongan atas penurunan tarif telekomunikasi tidak akan mempengaruhi perilaku dalam berkomunikasi terlalu besar karena pola konsumsi yang berbeda. Secara garis besar turunnya tarif jelas akan mempengaruhi pola pandang terhadap penggunaan dan konsumsi telekomunikasi di Indonesia.

Dampak sosial di masyarakat

Penulisan di atas merupakan gambaran secara garis besar dampak penurunan konsumsi telekomunikasi di Indonesia. Jika dipandang secara mendetail banyak pengaruh sosial yang timbul akibat kondisi tersebut. Mulai dari menjamurnya penggunaan telepon genggam, peningkatan intensitas konsumsi telekomunikasi, persaingan antar operator semakin meningkat, pengalihan kebutuhan secara besar-besaran, dan pemborosan dalam konsumsi telekomunikasi. Keadaan tersebut jika ditelaah lebih jauh dapat diketahui pengaruhnya, apakah berdampak positif atau negatif? Namun, hal tersebut harus dipandang secara dua arah, dari segi konsumsi dan penyedia jasa telekomunikasi. Dengan hal tersebut diharapkan dapat memberi penilaian lebih objektif mengenai dampak penurunan tarif telekomunikasi.

Menjamurnya penggunaan telepon genggam berkorelasi positif dengan penurunan tarif telekomunikasi di Indonesia. Seiring penurunan tarif maka permintaan akan telepon genggam meningkat drastis. Hal ini menunjukkan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang cenderung meningkat. Fenomena ini mampu menggerakkan permintaan dan penyediaan jasa telekomunikasi, baik layanan jasa maupun penjualan telepon genggam. Pergerakan yang terjadi pada permintaan layanan jasa mendorong peningkatan penggunaa telepon genggam. Dengan pola yang terjadi saat ini menggambarkan konsumsi yang terjadi pada telekomunikasi mendorong permintaan piranti pendukungnya, seperti telepon genggam. Jika dilihat dari segi penyedia jasa, permintaan yang meningkat akan mendorong investasi secara besar-besaran. Dimana kedua hal tersebut berkorelasi positif yang berdampak pada meningkatnya penggunaan telepon genggam. Jika ditelaah lebih mendalam akan berdampak luas pada pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi jasa telekomunikasi.

Peningkatan intensitas konsumsi telekomunikasi terdorong seiring turunnya tarif komunikasi. Dalam hukum permintaan menyebutkan bahwa semakin harga turun maka jumlah barang yang diminta akan meningkat. Jika diartikan dalam permintaan telekomunikasi maka semakin murah tarifnya akan meningkatkan lama waktu penggunaan jasa komunikasi tersebut. Hal ini jelas memberi peluang bisnis yang besar bagi investor telekomunikasi. Fenomena ini menggambarkan permintaan akan jasa komunikasi cenderung meningkat dari tahun ketahun. Kondisi ini jelas menarik minat investor untuk menanamkan modalnya disektor telekomunikasi. Bahkan, dalam kondisi krisis global saat ini permintaan akan jasa komunikasi tidak terlalu berpengaruh pada konsumsi masyarakat. Hal itu membuktikan telekomunikasi memiliki dampak sosial kuat dan menyebar secara meluas.

Dengan peningkatan permintaan akan konsumsi jasa telekomunikasi akan meningkatkan persaingan antar operator dalam menarik pelanggannya. Tawaran dengan tarif murah melalui promosi dalam jangka waktu tertentu menjadi andalan bagi masing-masing operator untuk meningkatkan daya saingnya. Selain itu, bermunculannya operator baru ikut menyemarakkan persaingan dalam dunia telekomunkasi. Saat ini penyedia jasa komunikasi tidak hanya merambah pasar GSM tetapi ada yang bermain dalam pasar CDMA. Hal itu merupakan variasi layanan yang berfungsi menjaring pelanggan dengan pasarnya masing-masing.

Banyaknya operator telekomunikasi membuat masyarakat bingung menentukan penggunaan jasa operator. Bagi sebagian orang yang telah lama menggunakan operator tertentu mungkin akan tetap menggunakan nomer lamanya, sedangkan untuk pengguna baru akan menjadi sasaran dari operator untuk menarik minat pelanggannya. Variasi dalam tawaran jasa dan operator akan meningkatkan persaingan yang lebih sehat. Yang pada akhirnya, konsumen tidak dirugikan dengan penerapan tarif telekomunikasi saat ini.

Pengalihan kebutuhan secara besar-besaran terjadi akibat dari turunnya tarif telekomunikasi. Dimana respon masyarakat yang dipandang terlalu berlebihan membawa dampak yang kurang baik dalam pola konsumsi mereka. Hal itu tercermin dari kondisi masyarakat yang lebih mengutamakan sarana komunikasi dari pada untuk konsumsi kebutuhan pokok. Pengaruh yang timbul dari turunnya tarif telekomunikasi ialah perilaku modernisasi. Yang lebih mengutamakan penampilannya tanpa memandang segi lain yang lebih penting untuk bertahan hidup. Keadaan ini jelas menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan, bagi para penyedia jasa layanan telekomunikasi tidak ada kendala berarti dalam perubahan pola konsumsi di masyarakat. Dengan pola konsumsi yang berubah malah penyedia jasa komunikasi tersebut diuntungkan. Kedua hal tersebut harus dicermati dengan baik, jika tidak akan memberi dampak sosial yang negatif di masyarakat lebih besar meskipun pihak operator jasa layanan diuntungkan.

Pemborosan dalam konsumsi telekomunikasi diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan masyarakat dengan sia-sia atau tidak dalam kondisi yang mendesak. Dimana keinginan masyarakat untuk menggunakan jasa komunikasi meningkat meskipun penggunaannya sia-sia atau kurang memberikan manfaat. Pengaruh ini jelas tidak baik karena masyarakat hanya diajarkan untuk mengonsumsi saja tanpa adanya peningkatan produktivitas. Jika dipandang secara ekonomi konsumsi memang baik tetapi jika tidak didukung dengan peningkatan produktivitas tidak akan memberi dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Secara tidak langsung masyarakat akan terdidik untuk berkonsumsi saja, hal itu bisa menimbulkan ketergantungan yang luar biasa yang bisa berdampak negatif dalam jangka panjang.

Dampak ekonomi bagi masyarakat

Pengaruh yang ditimbulkan dengan peningkatan pesat konsumsi telekomunikasi dapat ditinjau dari segi ekonomi makro dan mikro. Dimana keduanya akan membahas dari sudut pandang yang berbeda. Dalam menelaah dampak dari penurunan tarif telekomunikasi dengan kedua komponen tersebut kita dapat melihat pengaruhnya secara menyeluruh. Meskipun membutuhkan penyesuaian dengan kondisi riil yang terjadi di masyarakat.

Dalam memandang pengaruh penurunan tarif telekomunikasi dari segi makro yang harus dilihat ialah komponen apa yang akan meningkat. Penurunan tarif akan mendorong peningkatan agregat permintaan yang digambarkan dalam konsumsi nasional. Melihat kondisi tersebut hal yang bisa dilakukan oleh operator telekomunikasi yaitu dengan memperbanyak pelanggan. Asumsi yang digunakan penurunan tarif tetap tidak dapat berubah sewaktu-waktu. Respon yang dilakukan operator telekomunikasi yang sudah ada akan meningkatkan investasi dalam telekomunikasi, seperti pembangunan tower, perluasan jaringan komunikasi, dan promosi besar-besaran. Bagi operator baru akan melihat bahwa investasi dalam telekomunikasi di Indonesia masih menguntungkan. Hal itu ditandai dengan permintaan akan jasa telekomunikasi yang cenderung meningkat dari tahun ketahun.

Dengan meningkatnya konsumsi akan mendorong peningkatan PDB nasional hal jelas berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Peningkatan konsumsi khususnya dibidang telekomunikasi akan menstimulus perkembangan dunia usaha lainnya (tidak hanya jasa telekomunikasi). Konsumsi telekomunikasi yang meningkat akan diikuti dengan piranti pendukung, seperti penjualan telepon genggam dan aksesoris lainnya. Stimulus ini akan merangsang peningkatan perekonomian, dalam jangka pendek akan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan, dan ikut membantu dalam peningkatan produktivitas masyarakat.

Pengembangan investasi akan terdorong ketika permintaan akan jasa telekomunikasi meningkat. Munculnya inovasi pada operator telekomunikasi merupakan tanda bahwa kegiatan investasi dalam telekomunikasi sangat menjanjikan. Jika dilihat lebih mendalam ekspansi yang dilakukan mampu meningkatkan gairah di berbagai sektor sehingga krisis global yang terjadi tidak akan berdampak terlalu besar bagi dunia telekomunikasi. Dalam beberapa pengamatan di Roxy Mas pengunjung cenderung mengalami peningkatan meskipun ancaman krisis global mulai mendera sektor riil.

Dalam memahami kondisi tersebut perlu ditelaah bahwa investasi telekomunikasi bisa menjadi salah satu penggiat dari kemajuan ekonomi. Stimulus dari penurunan tarif berdampak sangat meluas sehingga perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Bukan tidak mungkin industri telekomunikasi bisa menjadi penopang ekonomi dalam menghadapi krisis global saat ini. Hal bisa dipetik dari penurunan tarif telekomunikasi yaitu adanya peningkatan atau gairah pasar yang mendorong peningkatan PDB (Product Domestic Bruto) sehingga mampu menopang ekonomi terutama ketika krisis global melanda.

Gairah pasar telekomunikasi dalam mendukung perekonomian nasional tidak terlepas dari konsumsi individu. Hal itu ikut mendorong penekanan dalam menelaah kondisi mikro yang ada. Dalam pembahasan mikro yang perlu diketahui yaitu biaya produksi dan jumlah barang yang dapat diproduksi. Dengan kedua hal tersebut dapat dikembangkan untuk melihat kondisi masyarakat secara individu. Dimana komponen biaya meliputi biaya tetap seperti gedung, mesin dan biaya variabel meliputi upah tenaga kerja, dan biaya pelatihan, dan tunjangan bagi tenaga kerja. Sedangkan, komponen dalam produksi meliputi produktivitas tenaga kerja, dan kapasitas produksi dari mesin yang digunakan.

Dengan adanya penurunan tarif telekomunikasi masyarakat akan merespon dengan konsumsi yang meningkat. Permintaan akan jasa komunikasi ini mendorong operator untuk melakukan ekspansi investasi. Hal ini akan menarik tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Selain itu, komponen yang sifatnya komplementer dengan telekomunikasi juga akan bergairah sehingga daya serap tenaga kerja akan meningkat tajam. Dengan penurunan pengangguran maka akan meningkatkan pendapatan masyarakat yang mendorong konsumsi yang besar. Akibat kehidupan sosial yang berkembang akan membuat masyarakat lebih menganggarkan dananya lebih besar untuk telekomunikasi.

Kepadanan yang terjadi dimasyarakat akan tetap menggairahkan industri telekomunikasi seiring peningkatan permintaan jasa telekomunikasi. Kondisi demikian akan mampu memberikan manfaat lebih besar jika dilihat dari sudut pandang ekonomi.

Menelaah dampak sosial dan ekonomi

Kemajuan pesat yang diraih oleh industri telekomunikasi di Indonesia tidak terlepas dari antusias masyarakat dalam menyambut penurunan tarif jasa komunikasi. Respon positif tersebut mendorong industri telekomunikasi di Nusantara. Mulai dari menjamur penggunaan telepon genggam hingga intensitas konsumsi telekomunikasi yang terus meningkat. Namun, kemajuan yang dicapainya saat ini memiliki dampak yang luas bagi kehidupan masyarakat Nusantara. Baik yang positif maupun dampak yang negatif dari perkembangan dunia telekomunikasi akibat penurunan tarif tersebut.

Dalam menguraikan pengaruh dapat saling bertentangan antara dampak bagi kehidupan sosial maupun ekonomi masyarakat Indonesia. Tidak jarang juga dampak keduanya bisa bersifat positif atau neegatif semua. Hal itu merupakan sebuah risiko yang harus di tanggung masyarakat Indonesia ketika terjadi masa transisi dalam konsumsi telekomunkasi. Kesiapan masyarakat juga ikut menentukan berkembangnya industri telekomunikasi yang ada.

Prospek yang cerah bagi dunia telekomunikasi memang mampu menyihir masyarakat Indonesia. Yang diawali dengan penurunan tarif yang dilakukan pemerintah kepada setiap operator telekomunikasi. Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan dari berkembangnya telekomunikasi bisa menjadi buah manis atau masam. Tergantung dari kesiapan masyarakat dalam menerima pengaruh besar yang menimpanya. Bukan hal yang mudah untuk menampik dampak yang ditimbul dari modernisasi yang terjadi.

Dalam menelaah dampak sosial dan ekonomi akibat penurunan tarif telekomunikasi perlu diketahui pengaruh yang ditimbulkan. Disemata-mata bahwa dampak positif bagi kehidupan sosial sudah pasti akan sama bagi ekonomi atau sebaliknya. Untuk itu pengenalan mengenai penurunan tarif harus ditanggapi dengan bijak. Tidak semata-mata penurunan tarif telelkomunikasi memberikan keuntungan yang besar tanpa adanya risiko atau efek samping lainnya. Yang perlu disadari saat ini ialah mengenai kesiapan masyarakat dalam menerima kemajuan telekomunikasi. Jangan hanya peningkatan ekonomi akibat kemajuan tersebut mengabaikan kehidupan sosial di masyarakat atau sebaliknya. Peningkatan kehidupan sosial yang tidak di imbangi dengan kemajuan ekonomi masyarakat Indonesia. Dengan memperhatikan aspek tersebut diharapkan terjadi kesinergisitasan di antara keduanya yang mampu membangun bangsa baik secara budaya melalui perilaku sosial dan peningkatan pendapatan dengan ditandai peningkatan pertumbuhan ekonomi.